Dugaan Kekerasan dan Penelantaran Anak di Daycare, Ini Kata Psikolog UMBY

Dugaan Kekerasan dan Penelantaran Anak di Daycare, Ini Kata Psikolog UMBY
Dugaan Kekerasan dan Penelantaran Anak di Daycare, Ini Kata Psikolog UMBY

Siarpedia.com, Yogyakarta – Psikolog UMBY menelaah dugaan kekerasan dan penelantaran anak di salah satu Daycare di Yogya. Menurutnya, dalam masyarakat modern, daycare bukan simbol kegagalan orang tua, melainkan sistem dukungan sosial. Karenanya, ketika terjadi kekerasan atau penelantaran, pertanyaannya bukan, “Mengapa orang tua menitipkan anak?”, melainkan “Mengapa lembaga pengasuhan gagal melindungi anak?”

 

Di sinilah psikologi sosial dapat membantu memahami mengapa sebagian orang begitu cepat menyalahkan orang tua. Salah satu penjelasannya adalah just-world belief, yaitu keyakinan bahwa dunia pada dasarnya adil, sehingga hal buruk dianggap terjadi karena ada kesalahan dari orang yang mengalaminya. Dengan cara berpikir ini, seseorang merasa lebih aman secara psikologis: “Kalau saya lebih hati-hati, hal seperti itu tidak akan terjadi pada saya.”

 

Keyakinan ini memberi rasa kontrol semu. Orang merasa tragedi dapat dihindari sepenuhnya jika korban “lebih waspada”, “lebih teliti”, atau “lebih benar” dalam mengambil keputusan. Padahal, tidak semua risiko mudah terlihat sejak awal. Tidak semua lembaga yang tampak profesional benar-benar aman. Tidak semua tanda kekerasan pada anak mudah dikenali, apalagi pada anak usia dini yang belum mampu bercerita dengan jelas.

 

Baca Juga ; Anak Jadi Korban, Mengapa Orang Tua yang Disalahkan? (bag 1)

 

Komentar menyalahkan orang tua dapat memperberat kondisi psikologis keluarga korban. Orang tua yang anaknya menjadi korban kemungkinan sedang bergulat dengan rasa bersalah. Mereka mungkin bertanya pada diri sendiri, “Mengapa saya tidak tahu lebih awal?”, “Apakah saya gagal melindungi anak saya?”, atau “Apa dampaknya bagi masa depan anak saya?” Ketika publik menambahkan tuduhan, rasa bersalah itu dapat berubah menjadi malu sosial.

 

Tentu, masyarakat boleh belajar dari kasus ini. Orang tua tetap perlu lebih cermat memilih daycare: mengecek izin, rasio pengasuh dan anak, rekam jejak lembaga, keterbukaan komunikasi, standar keamanan, serta mekanisme pelaporan. Tetapi edukasi tidak sama dengan menyalahkan. Edukasi membantu mencegah kejadian berulang. Victim blaming justru memindahkan tanggung jawab dari pelaku kepada korban.  (*/habis)

 

(tim siarpedia.com)

 

Tinggalkan Balasan