Saat Otak Mengira Itu Cinta, Ini Kata Psikolog UMBY (bag 1)  

Saat Otak Mengira Itu Cinta, Ini Kata Psikolog UMBY (bag 1)  
Saat Otak Mengira Itu Cinta, Ini Kata Psikolog UMBY (bag 1)

Siarpedia.com, Yogyakarta – Cinta biasanya dibayangkan sebagai sesuatu yang hangat, tulus, dan membahagiakan. Namun, dalam kasus love scam internasional yang baru-baru ini terbongkar di Sleman, cinta justru berubah menjadi alat manipulasi yang dingin, terstruktur, dan menguntungkan secara ekonomi, yang tidak hanya menipu dompet, namun kejahatan ini menipu otak dan emosi korbannya.

 

Para korban dalam kejahatan ini tidak dipaksa. Mereka tidak diancam. Mereka dirayu secara perlahan, konsisten, dan penuh perhatian. Dalam psikologi, cinta bukan hanya urusan perasaan, melainkan juga proses biologis. Ketika seseorang merasa diperhatikan, dibalas cepat, dipuji, dan dibuat merasa istimewa, otak akan melepaskan dopamine, yaitu zat kimia yang sama yang muncul saat kita jatuh cinta, berharap, dan merasa terhubung.

 

Pada praktik love scam, sinyal-sinyal ini tidak muncul secara alami, melainkan direkayasa. Para operator chat dilatih untuk merespons dengan intensitas tertentu, membangun kedekatan emosional, dan menciptakan ilusi hubungan eksklusif. Dalam hitungan hari atau minggu, korban mulai merasa “dekat”, meski tak pernah bertemu. Otak korban tidak membedakan apakah perhatian itu tulus atau dibuat-buat.

 

Baca Juga ; Martaria Rizky Dosen Psikologi UMBY Raih Gelar Doktor di UGM

 

Yang ia tangkap hanyalah satu hal: ada koneksi emosional. Hubungan daring memberi ruang besar bagi imajinasi. Tanpa kehadiran fisik, otak mengisi kekosongan dengan harapan dan proyeksi ideal. Profil yang menarik, cerita hidup yang menyentuh, serta percakapan personal menciptakan apa yang disebut psikolog sebagai illusion of intimacy, yaitu rasa dekat yang terasa nyata, meski tidak berakar pada relasi sebenarnya.

 

Ironisnya, keintiman semacam ini sering terasa lebih kuat daripada hubungan nyata yang penuh kompromi. Dalam dunia digital, konflik bisa “diatur”, emosi bisa dimanipulasi, dan persona bisa dipoles sesuai kebutuhan. Bagi korban, hubungan ini terasa aman, personal, dan bermakna. Padahal, yang terjalin bukan relasi, melainkan skenario. Skenario yang dirancang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. (*/bersambung)

 

(tim siarpedia.com)

 

Dr Martaria Rizky Rinaldi MPsi Psikolog, adalah dosen dan psikolog bidang klinis di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan