Saat Otak Mengira Itu Cinta, Waspadai Love Scam (2-habis)  

Saat Otak Mengira Itu Cinta, Waspadai Love Scam (2-habis)
Saat Otak Mengira Itu Cinta, Waspadai Love Scam (2-habis)

Siarpedia.com, Yogyakarta – Love scam tidak bekerja secara instan. Ia berjalan bertahap. Dimulai dari obrolan ringan, meningkat ke kedekatan emosional, kemudian perlahan mengaitkan afeksi dengan transaksi. Hadiah kecil, koin digital, akses konten, yang semuanya dibingkai sebagai bentuk perhatian dan pembuktian cinta. Dalam psikologi persuasi, ini dikenal sebagai teknik foot-in-the-door: permintaan kecil membuka jalan bagi ke lebih besar.

 

Cinta dijadikan jembatan eksploitasi. Yang dieksploitasi bukan hanya uang, tapi harapan akan dicintai. Pertanyaan yang sering muncul adalah: “Mengapa korban tidak berhenti saat mulai curiga?” Jawabannya ada pada cognitive dissonance, yaitu ketegangan psikologis ketika realitas bertabrakan dengan harapan. Setelah seseorang menginvestasikan waktu, emosi dan uang, mengakui semuanya palsu berarti menghadapi rasa malu dan kegagalan diri.

 

Untuk menghindari luka itu, otak memilih jalan yang lebih “aman”: bertahan, memaklumi, dan berharap. “Mungkin dia memang sibuk.” “Mungkin dia punya alasan.” Bukan karena korban bodoh, melainkan karena otak sedang melindungi diri dari rasa sakit yang lebih besar. Menariknya, banyak pelaku lapangan bukan kriminal dalam bayangan kita. Mereka adalah pekerja dengan gaji, target harian, bonus, dan penilaian kinerja.

 

Baca Juga ; Saat Otak Mengira Itu Cinta, Ini Kata Psikolog UMBY (bag 1)  

 

Manipulasi emosi dibingkai sebagai “tugas kerja”. “Di sinilah terjadi moral disengagement, yaitu proses psikologis ketika seseorang memisahkan tindakan dari tanggung jawab moralnya. Kalimat seperti “saya hanya admin chat” menjadi mekanisme bertahan agar rasa bersalah tidak muncul. Sistem membuat manipulasi terasa normal. Love scam tumbuh subur di tengah masyarakat yang semakin terhubung, tetapi semakin kesepian,” ungkap Dr Martaria Rizky Rinaldi MPsi Psikolog, dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

 

Banyak korban berada pada fase hidup rentan, yaitu masa kehilangan pasangan, relasi sosial menipis atau kebutuhan makna. Mereka menjual bukan tubuh, bukan barang, tapi emosi. Love scam adalah bagian ekonomi emosi, industri yang mengambil keuntungan dari kebutuhan paling dasar manusia: ingin dicintai dan diperhatikan. Bahwa di era digital, manipulasi tak selalu datang dalam bentuk ancaman, bisa datang dalam bentuk perhatian. . (*)

 

(tim siarpedia.com)

 

Tinggalkan Balasan