UMBY Pamerkan Aplikasi Pendeteksi Perundungan Bully Buster di SSTY 2026

UMBY Pamerkan Aplikasi Pendeteksi Perundungan Bully Buster di SSTY 2026
UMBY Pamerkan Aplikasi Pendeteksi Perundungan Bully Buster di SSTY 2026

Siarpedia.com, Yogyakarta – Universitas Mercu Buana Yogyakarta menampilkan dua inovasi unggulannya, yakni aplikasi pendeteksi cyberbullying “Bully Buster” dan produk olahan riset kunir putih hasil riset Prof Dr Ir Dwiyati Pujimulyani MP, kerja sama CV Windra Mekar dalam Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026 di The Rich Jogja Hotel, Sleman, Rabu (9/9/2026).

 

Stan pameran UMBY mendapat kehormatan dikunjungi Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, yang melihat dari dekat integrasi teknologi perlindungan digital dan hilirisasi produk herbal lokal yang dikembangkan oleh akademisi UMBY. Aplikasi Bully Buster hadir sebagai solusi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan Natural Language Processing (NLP) untuk mendeteksi dini indikasi perundungan siber di lingkungan sekolah.

 

Inovasi ini digagas oleh tim lintas disiplin yang terdiri atas Dr Ir Putri Taqwa Prasetyaningrum ST MT MCE, Eka Aryani MPd dan Abdul Hadi MPd dengan memadukan bidang teknologi informasi serta bimbingan dan konseling. Dr Putri Taqwa Prasetyaningrum menjelaskan aplikasi ini dirancang untuk membantu sekolah merespons maraknya perundungan digital di media sosial maupun grup percakapan.

 

Baca Juga ; Tim PkM UMBY Dampingi UMKM Sleman, Bahas Pemasaran Digital

 

Selain mendeteksi kata atau pola komunikasi berbahaya, Bully Buster dilengkapi sistem pelaporan anonim, dasbor pemantauan konselor hingga dukungan terapi berbasis virtual reality. Pendekatan ini tetap menempatkan peran guru, konselor dan orang tua sebagai kunci utama pendampingan korban. Teknologi AI dan NLP digunakan untuk mengenali kata, kalimat atau pola komunikasi yang mengandung penghinaan sampai ancaman pelecehan.

 

Ketika sistem menemukan indikasi perundungan, informasi tersebut dapat menjadi peringatan awal bagi pihak yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan dan tindak lanjut. Sistem pelaporan anonim juga memberikan ruang yang lebih aman bagi siswa untuk menyampaikan pengalaman perundungan tanpa harus merasa takut terhadap tekanan maupun pembalasan dari pelaku. (*)

 

(tim siarpedia.com)

 

Tinggalkan Balasan