Merdeka Finansial ; Kisah Hanin, Mahasiswa UMBY Menepis Stigma

Merdeka Finansial ; Kisah Hanin, Mahasiswa UMBY Menepis Stigma
Merdeka Finansial ; Kisah Hanin, Mahasiswa UMBY Menepis Stigma

Siarpedia.com, Yogyakarta – Langkah Hanin, sapaan akrab dari Haninnaja Kevina Shenaya untuk memilih dan melanjutkan studi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) bukan tanpa alasan. Berawal dari rekomendasi orang terdekat, ia menemukan fakta lulusan UMBY, khususnya dari Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UMBY memiliki reputasi yang bersaing dan membanggakan.

 

“Bahkan ada alumni sini (FTI UMBY-red) yang pernah membimbing mahasiswa PTN  (Perguruan Tinggi Negeri-red) ternama dalam proyek pemodelan pemrograman. Dari situ saya makin yakin dengan kualitas UMBY,” ujar Hanin. Meski juga kecemasan biaya sempat menghantuinya di awal pendaftaran. Kekhawatiran kuliah di PTS mahal perlahan sirna ketika ia dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

 

Lewat beasiswa KIP-K ini, 100% biaya pendidikan (SPP/UKT) disalurkan ke pihak universitas, ditambah bantuan biaya hidup bulanan yang membantunya mandiri finansial. Ekspektasi awal Hanin tentang biaya kuliah ternyata meleset. Sebelum menjadi mahasiswa, ia mengira beban terberat ada pada SPP atau uang gedung. Kenyataannya, pengeluaran terbesar justru terletak pada kebutuhan operasional harian dan penunjang tugas perkuliahan.

 

Baca Juga ; UMBY Latih Karang Taruna Sport Massage di Bokoharjo  

 

Sebagai mahasiswa KIP-K, Hanin dituntut cerdas mengelola bantuan biaya hidup yang ia terima. “Selama bisa menjaga gaya hidup tetap terukur dan tak tergiur perilaku konsumtif, pengeluaran bulanan sebenarnya masih bisa dikendalikan. Rasa terasing atau kena FOMO jujur tidak terlalu saya rasakan. Keinginan buat ikut tren atau gaya hidup tertentu itu wajar di usia mahasiswa, tapi saya selalu ingat batas dan prioritas kebutuhan utama,” jelasnya.

 

Beban mempertahankan beasiswa dengan syarat IPK minimal 2.75 justru diubah menjadi bahan bakar motivasi. Alih-alih merusak kesehatan mental, tekanan tersebut membuatnya lebih disiplin dalam manajemen waktu belajar, bahkan ia turut berpartisipasi menjadi tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan lomba inovasi digital. Bagi Gen-Z, kerja sampingan pun menjadi gaya hidup, seperti dirinya. (*)

 

(tim siarpedia.com)

 

Tinggalkan Balasan