Ketika Tumbler Menjadi Krisis Kolektif, Ini Kata Psikolog UMBY (bagian satu)

Siarpedia.com, Bantul – Fenomena “Anita Tumbler” yang viral beberapa hari terakhir menunjukkan betapa cepatnya persoalan kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat berubah menjadi badai sosial. Hanya karena tumbler hilang, publik terseret dalam perdebatan moral, empati kelas hingga sanksi sosial digital. Kasus ini bukan lagi tentang barang tertinggal di KRL, tapi cermin dari cara masyarakat bereaksi di dunia yang semakin terhubung ini.
Kasus bermula dari unggahan Anita Dewi di Threads. Ia kehilangan tumbler yang tertinggal di bagasi KRL. Ketika tasnya ditemukan petugas bernama Argi, isi tas sudah tak lengkap. Anita menuding petugas KAI lalai dan meminta investigasi hingga pembukaan CCTV. Publik terbelah, sebagian membela Anita, namun lebih banyak yang bersimpati pada Argi, yang hampir kehilangan pekerjaannya karena prosedur yang tak sempat dijalankan.
Situasinya semakin pelik ketika perusahaan tempat Anita bekerja memutuskan memecatnya, dengan alasan perilakunya tidak sesuai nilai perusahaan. Dalam hitungan dua hari, konflik yang seharusnya dapat diselesaikan secara internal berubah menjadi drama nasional, seorang petugas KAI hampir kehilangan pekerjaan dan seorang penumpang benar-benar kehilangan pekerjaan akibat gelombang kecaman publik.
Pertanyaan bukan lagi “siapa salah?”, melainkan “mengapa kasus sederhana bisa berkembang jauh?” Dari pandangan psikologi, terdapat mekanisme yang bisa menjelaskan fenomena ini. Pertama, ada fundamental attribution error, yaitu kecenderungan manusia menyalahkan karakter seseorang dalam peristiwa, bukan situasinya. Ketika Anita melihat tumblernya hilang, otak otomatis mencari pelaku paling mungkin, meski ada faktor situasional lain.
Baca Juga ;HMPS BK UMBY Gelar Seminar Pengembangan Diri dalam Berkarier
Hal ini diperkuat emotional reasoning, yaitu kecenderungan menyimpulkan berdasarkan perasaan, bukan fakta. Namun bias ini tak hanya pada Anita. Publik pun melakukan hal serupa. Warganet menilai sifat dan karakter Anita sebagai “arogan”, “merasa berhak” atau “tak punya empati terhadap pekerja lapangan”. Padahal, yang terlihat di media sosial hanya potongan peristiwa, bukan konteks emosi atau tekanan sebenarnya yang dirasakannya. (*)
Profil Penulis
Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog (@martariarizky), adalah dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, sekaligus kandidat doktor Ilmu Psikologi Universitas Gadjah Mada.
(tim siarpedia.com)
