Dosen UNY Ini Teliti Telur Asin, Begini Penjelasannya

Telur Asin
Telur asin.

Siarpedia.com, Yogyakarta – Dalam kehidupan manusia sehari-hari banyak kegiatan atau hal-hal yang terkait dengan bidang kimia. Salah satunya adalah telur asin. Masyarakat Indonesia pastilah tidak asing lagi dengan jenis telur yang satu ini dan dapat dipastikan setiap orang pernah memakannya. Semua jenis telur dapat dijadikan telur asin, namun kenapa hanya telur bebek atau itik yang banyak diolah menjadi telur asin?

 

Dr Das Salirawati Msi, Dosen UNY menjelaskan, seperti diketahui bahwa dalam pembuatan telur asin, telur itu dibungkus dengan pasta campuran abu gosok, serbuk batu bata merah, garam kasar dan tawas agar kulit telur bersih. Apabila cangkang telurnya tipis pasti banyak yang pecah, terutama telur puyuh karena cangkangnya tipis. Lagipula telur puyuh kandungan kolesterolnya tinggi. Oleh karena itu hanya telur bebek yang lazim dibuat telur asin.

 

Dengan percobaan sederhana, Dosen Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY ini, menjelaskan langkah pertama menyediakan semua jenis telur, yaitu telur ayam kampung, ayam broiler, puyuh, dan bebek/itik, serta cuka botol besar minimal 2 botol. Sediakan juga gelas plastik bekas air mineral sebanyak jenis telur yang disediakan. Kemudian masukkan masing-masing telur ke dalam gelas bekas air mineral dengan hati-hati agar tidak pecah..

 

Tuang cuka ke dalam masing-masing gelas hingga seluruh bagian telur terendam. Letakkan di suatu tempat yang aman jauh dari jangkauan anak-anak, lalu amati yang terjadi setiap satu jam. “Setelah direndam cuka selama satu jam cangkang telur puyuh sudah bersih bereaksi dengan cuka, sehingga terlihat kuning telur puyuhnya. Sedangkan telur ayam broiler dan ayam kampung sekitar 5 – 6 jam sudah terlihat kuning telurnya,” kata Das Salirawati.

 

“Semakin tebal cangkang telur, maka reaksi akan berlangsung lebih lama. Hubungannya dengan telur asin adalah karena cangkang telur bebek paling tebal, maka paling memungkinkan untuk dibuat menjadi telur asin,”

 

Berdasarkan temuan itu, wanita kelahiran 16 Oktober 1965 ini memaparkan ternyata telur bebek/itik sudah 24 jam kadang-kadang belum semua terlihat kuning telurnya, hal ini menunjukkan cangkang telur bebek tebal. “Semakin tebal cangkang telur, maka reaksi akan berlangsung lebih lama. Hubungannya dengan telur asin adalah karena cangkang telur bebek paling tebal, maka paling memungkinkan untuk dibuat menjadi telur asin,” katannya. (*).

 

Dosen UNY Ini Teliti Telur Asin, Begini Penjelasannya
Ditag di:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *