Dosen UNY Kibarkan Merah-Putih di Ajang TIRT 2020, Taiwan

HumanioraEDU NewsLINE
Berfoto usai penyerahan penghargaan
Berfoto usai penyerahan penghargaan

Siarpedia.com, Sleman – Tidak ada keraguan di masa pandemic COVID-19, beberapa pendekatan ide dan teknologi dilakukan semakin masif. Pun dengan turunan dari produk berupa robotic, internet of things, dan AI (kecerdasan buatan). Rupaya ide ini pula diadopsi dalam tema ‘Intelligent Mechanical Anti-Pandemic International Competition’ dalam ‘Top International Robotics Tournament (TIRT)’ 2020 di Taoyuan, Taiwan, 21 November 2020.

 

TIRT merupakan annual event yang dihadiri berberapa negara, jenis lombanya bermacam-macam, mulai robot AI, racing drone, hingga robot battle. Muslikhin dan Ahmad Awaluddin Baiti, dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika dan Informatika, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) perpartisipasi dalam event ini juga kolaborasi dengan Dwi Sudarno Putra, dosen Pendikan Teknik Otomotif, Universitas Negeri Padang mewakili tim Inonesia.

 

“Kebetulan kami bertiga sedang menempuh studi S3 di Southern Taiwan University of Science and Technology, Taiwan,” ungkap Muslikhin dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 26 November 2020. Menariknya dari event ini semua komponen pendukung disediakan panitia melalui vendor CageBot termasuk mikrokontroller dan sensor-sensornya. Namun, beberapa pengembangan dibolehkan, misalnya jika hendak meng-custom dengan 3D printing.

 

“Bermula dari tawaran Prof. Roger Li, beliau membujuk bahwa riset yang saya geluti tentang deep learning (bagian dari AI) inline dengan tema TIRT2020. Namun saat itu ide belum terlintas sebab menggabungkan AI dengan COVID-19 adalah ide yang bagus dan perlu pendekatan empiris,”

 

Menurutnya, dalam proses kompetisi ini, ide dan dasar programing menentukan. Berkait ide, sejak awal boleh dikatakan tidak sengaja mengikuti TIRT2020. “Bermula dari tawaran Prof. Roger Li, beliau membujuk bahwa riset yang saya geluti tentang deep learning (bagian dari AI) inline dengan tema TIRT2020. Namun saat itu ide belum terlintas sebab menggabungkan AI dengan COVID-19 adalah ide yang bagus dan perlu pendekatan empiris,” katanya.

 

Setelah mempelajari beberapa sumber tentang proses karantina, dan pada satu kesimpulan karantina membawa efek psikis, serta bosan terhadap menu makanan tertentu. Penggunaan aplikasi pesan online tidak memungkinkan. Tidak hanya itu, penularan dari sesama pasien karantina dan paramedis sering diberitakan. Ide menggabungkan toko online, AI, robotic arm, dan Automatic Guided Vehicle (AGV) menjawab problem tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *