Langgar Prokes Covid-19, Bukti Keputusasaan ?  

HumanioraEDU JogjaLIFE
Spanduk ajakan tertib dan disiplin prokes agar cegah Covid-19,

Siarpedia.com, Yogyakarta – Di beberapa daerah kini banyak diterapkan sanksi sosial bagi warga yang melanggar disiplin protokol kesehatan (Prokes) cegah covid-19. Bentuk sanksinya pun beragam dari hal yang ringan hingga berujung denda pun diberlakukan. Namun, tidak jarang juga beberapa daerah sengaja memajang peti mati di pinggir jalan untuk mengingatkan banyak orang tentang dampak dari bahayanya penularan Covid-19.

 

Munculnya sanksi sosial untuk penegakan Prokes Covid-19, menurut dosen psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Diana Setiyawati PhD menunjukkan jika  mengubah perilaku masyarakat tidak mudah. “Setiap orang akan mengubah perilakunya jika sesuai persepsi yang diyakininya. Segala stresor (penyebab stres) itu kebanyakan netral, yang membuat kita tertekan atau tidak itu adalah persepsi kita sendiri,” ucapnya, Senin, 14 September 2020.

 

Ia mencontohkan soal persepsi bahwa seseorang yang merasa dirinya rentan dan berisiko tertular, namun ada yang merasa bahwa penyakit ini ringan dan tidak begitu serius bila terkena. “Ini tergantung persepsi akan keseriusan penyakit ini. Misal ada yang menganggap covid ini dianggap tidak serius, tidak parah kalau terkena. Jika ada yang menganggap serius maka mereka akan menimbang protokol kesehatan,” katanya.

 

Menurutnya, edukasi sangat diperlukan untuk mengubah persepsi warga masyarakat untuk bisa mematuhi Prokes. Meyakinkan menggunakan masker dan selalu cuci tangan untuk melindungi mereka dari paparan dan berisiko tertular  penting. “Kita harus meyakinkan diri kita apa iya pake masker dan cuci tangan bisa membuat saya terlindungi? Kalau sudah takdir bagaimana? Lalu soal persepsi beratnya mematuhi prokes,” ucapnya.

 

“Bisa juga karena putus asa dengan kondisi, memang yang harus kita perhatikan adalah memastikan agar semua orang terpenuhi kebutuhan dasarnya,”

 

Soal masih banyaknya warga yang melanggar protokol kesehatan ketika beraktivitas di luar rumah menurutnya sebagai bentuk kondisi keputusasaan terhadap kondisi karena dampak yang ditimbulkan yang begitu besar bagi kehidupan mereka. “Bisa juga karena putus asa dengan kondisi, memang yang harus kita perhatikan adalah memastikan agar semua orang terpenuhi kebutuhan dasarnya,” paparnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *