Dosen UMY Dampingi Masyarakat Sumber Produksi Film  

ArtCULTURE HumanioraEDU
Sejumlah peserta pelatia berfoto bersama.
Sejumlah peserta pelatihan berfoto bersama.

Siarpedia.com, Yogyakarta – Pada masa pandemi Covid-19, Budi Dwi Arifianto dan Zein Mufarrih Muktaf, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tetap berkomitmen dengan kegiatan pengabdian masyarakat. Mereka melakukan pendampingan produksi film berbasis naskah ketoprak di desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

 

“Program pengabdian ini telah berlangsung selama satu semester awal tahun 2020. Pengabdian ini bertujuan untuk pengembangan konten dari Ndeso Film Festival yang sudah diinisiasi pada program pengabdian sebelumnya,”

 

“Program pengabdian ini telah berlangsung selama satu semester awal tahun 2020. Pengabdian ini bertujuan untuk pengembangan konten dari Ndeso Film Festival yang sudah diinisiasi pada program pengabdian sebelumnya,” ujar Budi, pada Jum’at, 14 Agustus 2020. Dikatakan pula, jika pengabdian ini juga melibatkan, Citra Dewi Utami dari ISI Surakarta sebagai anggota.

 

Budi menambahkan tujuan lain dari program ini adalah mendekatkan dan menumbuhkan kecintaan anak muda terhadap seni tradisi dengan cara pengalihwahanaan seni tradisional menjadi bentuk film. Mitra Pengabdian kepada masyarakat ini adalah karang taruna desa Sumber yang tergabung dalam komunitas pembuat konten video, dan paguyuban ketoprak yang berada di Desa Sumber.

 

“Program pengabdian ini merupakan kelanjutan dari program di tahun 2019. Sebelumnya telah dilaksanakan program pelatihan pengelolaan festival film yang mampu memantik semangat produksi film para pemudanya yaitu Ndeso Film Festival (NFF) 2019. Selanjutnya, warga berinisiatif membuat film berkolaborasi dengan sanggar ketoprak Santiaji,” kata Budi, yang juga menambahkan selama produksi tetap memperhatikan protokol kesehatan.

 

Sementara itu, Zein Mufarrih mengatakan, teknologi pembuatan film yang semakin murah ternyata mampu menggerakkan semangat anak muda untuk membuat film. Teknologi yang tergenggam di tangan anak muda hendaknya bisa dimaksimalkan, seperti membuat film misalnya. “Tidak hanya semangat saja, namun dibutuhkan juga pendampingan agar potensi yang ada bisa diarahkan lebih baik dan tentunya positif,” tutupnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *