Ampas Tebu Pun Bisa Jadi Batu Bata  

HumanioraEDU NewsLINE
Batu bata inovasi mahasiswa UNY dari abu ampas tebu.
Batu bata inovasi mahasiswa UNY dari abu ampas tebu.

Siarpedia.com, Sleman – Sekelompok mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berinovasi untuk membuat batu bata tahan gempa dari bahan yang tidak biasa terpakai, yaitu ampas tebu limbah pabrik gula Madukismo Bantul. Mereka adalah Rania Nova Dechandra (Prodi Matematika), Siti Vera Lestari dan Wahyuni Eka Maryati (Prodi Pendidikan Matematika).

 

“Abu ampas tebu atau AAT dipilih sebagai bahan pembuatan batu bata karena mengandung SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, K2O, Na2O, MgO, dan P2O5 yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pengganti semen,”

 

Menurut Rania Nova Dechandra, dipilihnya abu ampas tebu (AAT) sebagai bahan batu bata tahan gempa karena jumlahnya yang cukup melimpah. “Abu ampas tebu atau AAT dipilih sebagai bahan pembuatan batu bata karena mengandung SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, K2O, Na2O, MgO, dan P2O5 yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pengganti semen,” ungkapnya, Selasa, 9 Juni 2020.

 

Dijelaskan, jika abu ampas tebu ini banyak mengandung senyawa silika (SiO2) yang dapat bereaksi dengan Ca(OH)2 yang dihasilkan dari reaksi pencampuran semen dan air, sehingga dapat menghasilkan zat perekat seperti semen. Persentase kandungan senyawa di dalam abu ampas tebu sebelum dilakukan pembakaran adalah 53 % SiO2 , 4,3 % Al2O3, 7,5 % Fe2O3, 6,6% CaO, dan 28,6 % lain-lain.

 

Sedangkan, setelah dilakukan pembakaran abu ampas tebu pada suhu 600 C selama 2 jam, didapatkan hasil bahwa abu ampas tebu mengandung 71% SiO2, 2,5% Al2O3,  8,2% Fe2O3, 3,6%CaO , dan 14,7% lain-lain. Menurut ASTM (American Standart for Testing Material), kandungan silika harus memenuhi syarat diatas 70 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa abu ampas tebu setelah pembakaran paling memenuhi syarat sebagai bahan bangunan.

 

Dalam pembuatan batu bata tahan gempa dari abu ampas tebu ramah lingkungan tersebut menggunakan bentuk segienam atau heksagonal, karena secara matematika bentuk heksagonal memerlukan lahan lebih hemat 13 persen. Selain itu, menghasilkan populasi lebih banyak sekitar 15 persen dibanding bentuk segiempat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bentuk heksagonal memberikan hasil yang lebih baik dibanding bentuk segiempat.  (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *