Sambatan atau gotong royong khas desa. (ilustrasi)
Sambatan atau gotong royong khas desa. (ilustrasi)

Siarpedia.com, Gunungkidul – Gunungkidul memiliki ragam tradisi yang menjadi keunikan tersendiri di wilayahnya. Salah satunya tradisi sambatan gawe umah. Tradisi ini merupakan bentuk kebiasaan yang diyakini masyarakat dalam bentuk gotong royong membangun sebuah rumah melalui prosesi tertentu yang dilakukan bahu membahu antara masyarakat satu dengan yang lain tanpa adanya balasan secara materi.

 

“Namun sayangnya tradisi ini banyak terkikis oleh budaya luar, apalagi di era disrupsi juga menjadi salah satu penyebab dari semakin memudarnya tradisi lokal yang dimiliki masyarakat yaitu sikap pragmatis dan kurang mau bekerja keras,”

 

“Namun sayangnya tradisi ini banyak terkikis oleh budaya luar, apalagi di era disrupsi juga menjadi salah satu penyebab dari semakin memudarnya tradisi lokal yang dimiliki masyarakat yaitu sikap pragmatis dan kurang mau bekerja keras,” ungkap Diah Nadiatul Jannah, salah satu mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang meneliti tradisi tersebut, Jumat, 8 Mei 2020.

 

Karena itu, ia bersama Basiid Elmi Izzaqi dan Nabil Fairuzzabadi, sesama mahasiswa Program Studi (Prodi) IPS Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNY meneliti budaya tersebut. Menurutnya, efisiensi yang dibawa era disrupsi tidak selamanya berdampak baik bagi masyarakat. Ada beberapa kondisi yang mengakibatkan masyarakat malas dan instanisasi makin merebak.

 

“Permasalahan yang terjadi akibat memudarnya tradisi di masyarakat tidak dapat segara teratasi jika tidak adanya kerja sama dan sikap peduli. Penelitian tentang tradisi sambatan gawe umah dalam rangka mewujudkan dan menjaga nilai lokal pada tradisi yang ada dalam masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, gugur gunung atau kerja sama menjadi nilai lokal dalam tradisi sambatan gawe umah.

 

Dikatakan, nilai lokal gugur gunung dalam tradisi sambatan gawe umah membawa dampak pada terciptanya nilai-nilai lain yang bermanfaat seperti kepedulian, tanggung jawab, toleransi, kerja keras, semangat, dan komunikatif. Penelitian dilaksanakan di tujuh padukuhan (Jambu, Gabug, Wuni, Karangtengah, Jurug, Nglumbung, dan Jati) desa Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul. (*)

 

Tradisi ‘Sambatan Gawe Umah’ Mulai Terpinggirkan  
Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *