Papan nama BPS DIY.
Papan nama BPS DIY.

Siarpedia.com, Yogyakarta – Kota Yogyakarta pada April 2020 ini mengalami deflasi sebesar 0,24 persen yang disebabkan turunnya indeks harga konsumen (IHK)  kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,70 persen. Sedangkan laju inflasi kalender (April 2020 terhadap Desember 2019) sebesar 0,50 persen dan laju inflasi year on year (April 2020 terhadap April 2019) sebesar 2,34 persen

 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) BPS DIY Dr Heru Margono MSc di Yogyakarta, menyatakan, jika  deflasi di Kota Yogya juga disumbangkan oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya sebesar 0,01 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,03 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,12 persen; kelompok transportasi sebesar 0,73 persen.

 

Sedangkan kelompok yang mengalami inflasi, yaitu kelompok pakaian dan alas kaki naik sebesar 0,02 persen; kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,04 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,54 persen. Adapun kelompok yang relatif stabil, yaitu kelompok rekreasi, olahraga dan budaya; kelompok pendidikan; dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.

 

“Sedangkan nilai ekspor DIY pada Maret 2020 mencapai US$34,0 juta atau turun 4,76 persen dibanding ekspor Februari 2020. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari- Maret 2020 mencapai US$108,2 juta atau meningkat 6,71 persen dibanding periode yang sama 2019. Ekspor terbesar dikirim ke Amerika Serikat yaitu US$11,5 juta. Disusul Jerman US$4,7 juta dan Jepang US$4,5 juta,”

 

“Sedangkan nilai ekspor DIY pada Maret 2020 mencapai US$34,0 juta atau turun 4,76 persen dibanding ekspor Februari 2020. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari- Maret 2020 mencapai US$108,2 juta atau meningkat 6,71 persen dibanding periode yang sama 2019. Ekspor terbesar dikirim ke Amerika Serikat yaitu US$11,5 juta. Disusul Jerman US$4,7 juta dan Jepang US$4,5 juta,” ungkapnya, Senin, 4 Mei 2020.

 

Untuk  nilai impor DIY pada Maret 2020 mencapai US$9,3 juta atau turun 20,51 persen dibanding Februari 2020. Secara kumulatif, nilai impor Januari-Maret 2020 mencapai US$30,1 juta atau naik 48,28 persen dibanding periode yang sama 2019. Negara pemasok impor terbesar selama Maret 2020 adalah Hongkong dengan nilai US$2,2 juta, Tiongkok US$1,7 juta, serta Taiwan dan Amerika serikat masing-masing senilai US$1,5 juta. (*)

 

Kota Yogya Alami Deflasi 024 Persen  
Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *