Ramadan, Covid-19 dan Kita  

RamadanBERKAH Sorotan
Ilustrasi masjid.
Ilustrasi masjid.

MARHABAN YAA RAMADAN.  Saat ini, seluruh dunia, utamanya umat Muslim bersiap memasuki Ramadan. Bulan suci penuh berkah, hikmah dan ampunan dari Allah SWT. Meski harus diakui pada Ramadan kali ini terasa sedikit berbeda, seiring masih dalam status pandemi Covid-19. Kebijakan sosial distancing, psyhial distancing, juga stay at home membuat kebiasaan Ramadan kali ini tidak seperti biasanya.

 

Namun, Ramadan adalah bulan suci bagi umat Muslim. Meskipun dalam kondisi tidak mudah, masyarakat tetap antusias menyambutnya. Apalagi, berbagai upaya telah dilakukan oleh negara untuk dapat menekan perluasan penyakit akibat terjangkit oleh virus ini. Seperti sejumlah kebijakan yang telah disebutkan di atas. Imbas dari kebijakan tersebut juga berlaku dalam tatacara beribadah Ramadan kali ini.

 

Memang upaya terbaik saat ini yang dapat dilakukan pada umumnya adalah dengan cara menghindarkan terjadinya penyebaran virus dari orang yang sebetulnya telah terjangkit virus tapi belum terdeteksi, melalui berbagai upaya maupun kebijakan pemerintah seperti physical distancing, penggunaan masker work from home, sampai pada Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

 

Kesungguhan dari semua pihak baik kelompok dan lembaga maupun individu dalam mendukung kebijakan-kebijakan yang diambil, menjadi tolok ukur keberhasilan dalam mengatasi persoalan secara lebih cepat dan efektif. Kekompakan dan kebersamaan pada saat ini lebih memiliki peran dalam mengatasi wabah ini, dibandingkan berbagai hal lainnya yang bisa dilakukan oleh masyarakat.

 

Perilaku tidak disiplin dan meremehkan berbagai aturan tentang penanggulangan Covid-19 ini dianggap paling berpotensi menggagalkan seluruh upaya yang telah dilakukan. Untuk memunculkan semangat kebersamaan dan saling mendukung dibutuhkan kualitas kemanusiaan semua pihak. Tanpa semangat kemanusiaan sepertinya bakal muncul kecenderungan untuk saling menyalahkan.

 

Ramadan kali ini diharapkan bukan saja menjadi ajang beribadah semata, namun sarana instropeksi. Apalagi, sering kali agama dijadikan alat menghujat yang berbeda ketika cara pandang terhadap agama keliru. Akibatnya tentu saja mengerikan mengingat Covid-19 tak pernah pilih-pilih manusia. Semangat kemanusiaan dalam menghadapi Covid-19 rasanya diuji melebihi ujian lainnya,  termasuk di antaranya semangat keberagamaan sekalipun. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *