adu jotos, menjadi sisi kelam pendidikan.

Ilustrasi adu jotos.

Siarpedia.com, Yogyakarta – Dunia pendidikan kembali tercoreng. Kali ini sisi gelap ditandai dengan meninggalnya salah satu pelajar di kota ini akibat kekerasan segelintir siswa atau sering disebut klitih. Dio, nama panggilan Fatur Nizar Rakadio, 16 tahun, yang berstatus pelajar menjadi korban aksi klitih di Jalan Siluk-Panggang, Imogiri, Bantul. Korban dinyatakan meninggal setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sardjito.

 

Kepada Siarpedia.com, Kamis, 16 Januari 2020, Dosen Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Lucky Kurniawan MPd menilai, banyak faktor kenapa aksi klitih bisa terjadi atau yang melatarbelakanginya seseorang berperilaku negatif ini. Mulai dari sisi keluarga, faktor pengaruh lingkungan, pendidikan dan dalam diri sendiri remaja. Apalagi, masa remaja sering diidentikan dengan masa pencarian jati diri.

 

Menurut Lucky Kurniawan, dari sisi keluarga ditandai dengan kurangnya fungsi kontrol dan proteksi diri dari orangtua menjadi salah satu penyebab krusial pada saat ini. Apalagi, sebagian besar orangtua saat ini waktunya dihabiskan untuk bekerja, sehingga anak merasa kurang kasih sayang, ditambah dengan bebasnya pergaulan pelajar, sehingga berpotensi untuk  berperilaku negatif.

 

Pengaruh lingkungan juga tak kalah besar. Remaja cenderung konformitas pada kelompoknya. Jika budaya ini dibangun dalam kelompoknya negatif, maka anggotanya berpotensi berperilaku negatif. Serta tak kalah penting faktor sekolah. Kecenderungan pendidikan yang berorientasi nilai ujian, sehingga pengembangan kompetensi sosial seringkali terabaikan. “Contoh budaya 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Satun) ini penting untuk diajarkan,” pesannya.

 

Bukan hanya itu, tidak kalah penting adalah faktor dari diri sendiri. Remaja yang ingin mencari jati dirinya sendiri perlu pendampingan. “Apalagi konsep berpikir remaja seringkali sepintas. Bahkan, sebagian besar remaja pada saat ini dalam melakukan sesuatu tidak jarang berpikir jangka panjang, menimbang tentang positif negatif atau berpikir tentang dampak baik dan buruk,” tandasnya.    (*)

 

 

Aksi Klitih Pelajar Coreng Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *